aku takut…
ketika seseorang berharap sama aku, terus aku mengecewakannya…
aku takut dia pergi…
aku takut…
ketika aku gak berhasil membuat kesan yang baik sama orang lain, terus orang lain itu ilfil sama aku…
aku takut dia gak mau lagi berteman denganku…
aku takut…
ketika aku berbuat salah, terus orang lain jadi membenciku, terus kebencian itu merambat ke orang lain…
aku takut gak ada lagi yang mau nyapa aku…
aku takut…
ketika aku gak ngikutin kata orang lain padahal orang lain itu “ngotot” banget sarannya benar…
aku takut gak ada lagi yang mau kasih saran ke aku…
aku takut…
ketika aku kesal, marah, kecewa sama orang lain dan aku ekspresikan rasa kesal, marah, sama kecewa itu sama orang itu…
aku takut orang lain itu sedih, terus ngejauh dari aku…
pasti sedih rasanya jadi si “aku” ini…
hanya demi berusaha tampil tanpa cacat di depan khalayak ramai, ia harus buang semuanya…
semuanya…
iya, semuanya…
padahal…
gak ada satupun orang di sekitar dia yang peduli dia mau ngapain…
padahal…
gak ada satupun orang di sekitar dia yang berharap bakal diikutin… apalagi sama si “aku” ini…
padahal….
gak ada satupun orang di sekitar dia yang bahkan nganggep kalo dia itu sebenarnya ada…
Kara through the Years: Kang Jiyoung
Legendary facts about How I Met Your Mother.
MUST READ
sebuah cuplikan dari komik Hunter x Hunter yang mengingatkan saya kalau saya gak boleh menganggap lawan saya di posisi terlalu tinggi dan saya ada di posisi yang terlalu rendah, padahal mungkin aja saya saat itu berada di posisi kekuatan yang lebih tinggi dari lawan saya.
salah satu sore yang inspiring menurut saya dengan melewatkan sore dengan belajar manajemen, emang belajar beginian gak akan pernah bikin bosen, apalagi kalo dibawain dengan cara yang menyenangkan, bener-bener ilmunya serasa fluid, masuk ke telinga bersama sayup-sayup udara dingin lalu ketika sampai di aliran darah terasa berdesir mengalir sampe ke otak. oke agak lebay gimana gitu.
tapi terus terang yang bener-bener membekas sampe sekarang ini adalah mengenai teori marketing-mix atau apa ya namanya agak lupa itu, yang intinya adalah bagaimana kita melakukan penyesuaian sedemikian rupa dalam 4P komponen inti yang ada dalam sebuah ilmu marketing yaitu Product, Price, Promotion, dan Place.
seketika ketika bapaknya ngejelasin itu saya sempat berpikir, bahwa sebenernya kita, manusia juga harus (bukan harus lagi sih, tapi pasti) punya 4P komponen marketing itu, yang mana tentunya harus ada mix-match di masing-masing komponennya itu. sehingga gabungan komponen yang sudah di mix-match sebelumnya itu mampu membuat kita jadi salah satu blockbuster di jagat persilatan manusia di muka bumi ini tentunya haha.
Product, tentunya produk ini maksudnya bukan sesuatu yang kita “produksi” tiap hari kayak keringat, air seni, dan lain-lain tapi Productdisini merujuk ke “segala-sesuatu-yang-bisa-kita-berikan-ke-lingkungan-dan-orang-orang-di-sekitar-kita”, entah itu berupa kesan baik, berupa kesan buruk, berupa benda juga bisa.
Price, mungkin sering kita dengar di sinetron-sinetron yang sering kita tonton banyak keluar kata-kata, “dasar gak punya harga diri!!”, dan lain sebagainya, itu juga sebenernya nunjukkin kalau kita punyaPrice, dimana kalau boleh saya bayangin itu di leher kita itu sebenernya tergantung “papan harga”, dimana kita gak bisa “papan harga” itu, orang lain juga gak bisa liat “papan harga” itu, tapi orang lain bisa merasakan keberadaan “papan harga” itu, yaa walaupun kita juga sebenernya bisa ngerasain “papan harga” itu dengan ngeliat perlakuan orang-orang yang berinteraksi sama kita. intinya kita, manusia, punya “harga” masing-masing di mata orang lain, yang mana nilainya beda-beda dan diri kita sendiri yang harus “nentuin” berapa sih “harga” kita buat si A, buat si B, buat si C, sampaaai buat si Z.
Promotion, mungkin diartikan sebagai tebar pesona kali ya, seberapa seringnya diri kita menebar pesona ke orang-orang yang kita temui juga tentunya bakal bikin semua orang punya “harga” masing-masing ke kita, yang mana kalo kita tebar pesona-nya pesona-pesona yang jelek-jelek berarti siap-siap aja banyak yang pasang “harga” rendah buat kita dan begitupun sebaliknya. intinya, tebar pesona itu sebenernya sangat-sangat dianjurkan, tapi untuk hal-hal yang baik, biar orang-orang juga pricing ke kita dengan “harga” yang mahal.
dan yang terahir, Place, pernah gak sih kita denger kalo kita ini, manusia, itu sebenernya makhluk 3 dimensi? artinya apa? kita punya panjang, lebar, dan tinggi yang tentunya ketika seseorang liat kita gak akan bisa liat seberapa “volume” kita kalau dia cuma ngeliat panjang dan lebar kita aja, atau cuma panjang dan tinggi aja, atau panjang kita doang malahan. makanya yang namanya “positioning” itu penting dalam kehidupan, sehingga orang lain bisa liat kita secara seutuhnya, liat panjang, lebar, dan tinggi sehingga orang lain bisa tau seberapa sih “volume” kita dan dengan demikian gak akan memungkinkan terjadinya overprice atau lowerprice pada diri kita sehingga gak bakalan tuh ada yang namanya PHP (pemberi harapan palsu) gara-gara orang menilai kita “ketinggian” atau terjadi yang namanya underestimate gara-gara orang menilai kita “kerendahan”. ya kan?
jadi intinya, lakukanlah mix and match supaya kita bisa jadi manusia berharga “mahal” buat orang lain.
maaf kalo gak jelas.
kalau semua kata-kata itu bisa diitung bobotnya, mungkin kata-kata yang paling ringan bobotnya di dunia ini cuma kata-kata basa-basi kayak,hai,hello,selamat yaaa,apa kabar?,semangat!, dan kata-kata lain semacamnya. karena pilihan kata-kata ini bisa diterapin ke semua orang yang kita berinteraksi dengan mereka, baik itu teman dekat, temen ajah, ataupun musuh, dan entah ituface to faceatau lewat media sosial.
kata-kata tadi suuuuuungguh sangat ringan, saking ringannya sering banget kita abaikan, coba aja itung berapa banyak kita ngucapin kata-kata itu ke orang-orang yang kita temuin? pasti gak banyak, sedikit malah.
padahal, kata-kata yang tergolong gampang banget buat diucapin ini yang gak perlu banyak-banyak mikir buat ngucapin ini sangat-sangat berarti orang yang diucapin itu. gimana ketika orang lagi hebat-hebatnya ngerjain sesuatu terus kita lewat di depannya sambil bilang, “semangat ya! lo pasti bisa!”, orang itu pasti seneng banget, gimana nggak, orang dia lagi capek-capeknya ngerjain tugas itu terus tiba-tiba ada orang yang nyemangatin dia, rasanya pasti bakalan kayak nemu oasis di tengah padang pasir, tiba-tiba jadi sejuk, seger, dan bergairah lagi. kalo gak percaya buktiin aja sendiri.
jadi sebenernya gak heran kalo Goku bisa ngalain Bhu pake bola semangat.
setiap detik, setiap menit, setiap jam, atau setiap selang waktu berapapun orang bisa berubah, dari yang tadinya tergila-gila sama A dalam sekian detik bisa membenci A dan tergila-gila sama B, dari yang tadinya benci sama C dalam sekian detik berubah jadi cinta dan melupakan D, E, dan F, dan sebagainya, intinya semuanya berubah.
saya jadi mikir, ketika si X bilang ke si Y, “elo udah berubah sekarang”, sebenernya siapa sih yang bener-bener berubah? apakah pola pikir X yang berubah? atau memang ideologi si Y yang udah gak sejalan lagi sama si X? sebenernya yang mana sih?
kalo kita belajar dulu fisika tentang laju dan kecepatan, yang namanya bergerak itu kan sebenernya cuma bagaimana dari sudut mana kita memandang aja, ketika kita naik bis dan bis itu bergerak, kita sering liat pohon2 di luar bis seperti bergerak sementara kita di dalam bis cuma duduk diam, lalu bisa kan kita bilang sebenernya kalau pohon itu bergerak? atau kalau kita di luar bis dan liat bis bergerak, kita bisa bilang kan kalau bis itu bergerak dan kita diam?
jadi sebenarnya kita harus benar-benar mikir kalau mau bilang ke orang lain kalau orang lain tersebut udah berubah, karena jangan-jangan sebenarnya sudut pandang kita ke orang lain itulah udah berubah, padahal sebenarnya orang lain itu tetap ada di dalam jalur sudut pandang kita yang sebelumnya.
kalau kembali ke jaman SD dulu, pernah suatu ketika guru di kelas menerangkan tentang bumi berevolusi mengelilingi matahari, bumi berotasi, bulan berevolusi juga, bulan berotasi juga, semuanya berputar, melingkar.
pernah gak kita bertanya, sebenernya kita ini sedang berputar apa nggak sih? kalau dibilang berputar, saat ini saja saya sedang menulis tulisan ini sambil duduk bersila dengan tenang, kalau dibilang gak berputar, lah kita ini kan berpijak di bumi, masa iya kita gak berputar?
menurut saya dua-duanya gak salah, kita berputar, walaupun sebenernya gak terasa kalau kita berputar, tapi sadarilah, hidup kita tersusun atas sekian ratus ribu siklus bla bla bla yang bisa membuat saya bisa menulis tulisan ini, membuat kamu bisa membaca tulisan ini, dan membuat tumblr ini mencantumkan tulisan saya, percaya kan kalau sebenernya kita ini berputar?
ungkapan terkenal yang tentunya sering kita dengar bunyinya, “kehidupan itu seperti roda, kadang di atas kadang di bawah” sepertinya cukup menerangkan kalau kita ini berputar dan selain itu diri kita ini gak cuma punya satu buah image, kita gak bisa berbuat baik terus ke semua orang yang kita sayangin dan kita gak bisa berbuat buruk terus ke semua orang yang kita benci, karena kita berputar.
seiring berputarnya waktu, image baik dan buruk silih berganti mengisi kekosongan tubuh kita seperti siang dan malam yang saling melengkapi. sehingga ada kalanya ketika kita bertemu dengan orang-orang baru yang mungkin saja bisa menjadi sahabat kita, tubuh kita sedang dihinggapi si image buruk yang membuat mereka menjadi memalingkan wajahnya dari hadapan kita dan kita dimasukkan ke dalam arsip bad person pada dokumen arsip yang tersimpan di otaknya, sehingga kapanpun kita bertemu dengannya, otaknya akan sesegera mungkin menampilkan gambaran-gambaran jahat tentang kita yang memang itu benar adanya, tapi sebenarnya hal itu bisa diperbaiki dengan mudah. hal ini pun berlaku pada image yang baik pula tentu saja.
kita gak akan pernah bisa menyenangkan semua isi dunia ini, kita gak akan bisa membuat semua orang menganggap kita sebagai seorang good person, karena image dalam diri kita masih tetap berputar untuk saling melengkapi, dan gak ada satupun yang bisa mendominasi yang lainnya.
ketika kita menyadari apa-apa yang kita lakukan saat ini yang membuat kita senang, kadang muncul gumaman dalam hati yang kurang lebih, “ah sial! kalau saja aku menggeluti ini dari dulu, mungkin aku sekarang sudahbla bla bla….” dan membuat kita cenderung jadi nggak mensyukuri segala sesuatunya.
padahal, kalau kita dikasih kesempatan menerapkan gumaman tadi dalam kenyataan, kita belom tentu bisa mendapatkan semuanya seperti apa yang kita dapatkan seperti apa yang kita dapatkan sekarang. karena sebenarnya, semua yang digariskan sama kita ini selalu tepat, yang mana kalau bergeser ke belakang sedikit ataupun maju ke depan sedikit tidak akan sebaik kalau kita mendapatkannya pada saat yang tepat. ambil aja contoh si Aang si avatar, kalau dia terlalu maksa buat ngalahin si raja api pas gerhana matahari, mungkin dia bisa mati karena persiapan yang kurang, atau kalau dia terlalu berleha-leha nungguin komet sozin turun ke bumi dulu, dia gak akan bisa ngalahin si raja api karena si raja api udah terlalu kuat.
intinya, pandai-pandailah mencari momen yang tepat, momen yang membuat kamu bahagia, momen yang mengajarkanmu banyak arti, momen yang tidak ada penyesalan didalamnya karena semua dilakukan pada momen yang tepat.
jing’s wanna do